YOGYAKARTA – Setelah melalui persiapan selama beberapa minggu, kompetisi debat tingkat nasional UNITE 2026 resmi berakhir pada akhir pekan lalu. Sebagai Ketua Pelaksana, saya merasa sangat bangga dan bersyukur atas keberhasilan serta kelancaran jalannya acara yang berlangsung pada hari Sabtu dan Minggu kemarin.
Sebagai informasi, UNITE merupakan program kerja besar tahunan yang diselenggarakan oleh SAFEL UNY, yang pada periode ini dimotori secara langsung oleh rekan-rekan dari divisi EDS (English Debating Society).
Pada tahun ini, kami memutuskan untuk menerapkan konsep hybrid. Seluruh peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia bertanding secara daring (online) melalui platform Zoom. Di sisi lain, saya bersama seluruh panitia berpusat secara luring (of line) di Student Center UNY Lantai 3 untuk mengendalikan jalannya kompetisi. Mengelola acara berskala nasional secara daring dengan kepanitiaan yang terpusat secara luring tentu memberikan tantangan tersendiri, namun sinergi tim yang kuat membuat kami mampu melaluinya dengan baik.
Refleksi Tema “Kimi no Na wa” dalam Dunia Debat
Kompetisi UNITE 2026 kali ini hadir dengan konsep visual dan filosofi yang baru, terinspirasi dari animasi Kimi no Na wa, serta dilengkapi dengan jargon utama kami: “Satu dialektika membuka luasnya cakrawala.”
Kami memilih tema ini untuk mendorong mahasiswa agar lebih berani dalam bersuara dan menyampaikan pendapat di ruang publik. Melalui UNITE 2026, kami ingin menyampaikan pesan bahwa perbedaan perspektif bukanlah sebuah batasan. Sebaliknya, perbedaan tersebut merupakan kekuatan besar yang mampu menjembatani ruang dan waktu untuk membedah berbagai isu aktual yang kompleks. Bagi saya, UNITE 2026 bukan sekadar wadah bertukar argumen, melainkan sebuah batu loncatan bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan berpikir kritis yang memberikan dampak nyata.
Kompetisi Sengit dengan Format Parlemen Inggris
Kompetisi ini menerapkan format British Parliamentary (BP) yang sepenuhnya dibawakan dalam Bahasa Indonesia. Format ini menuntut konsentrasi tinggi karena setiap babak mempertemukan empat tim sekaligus dalam satu ruangan, yang terbagi ke dalam sisi Pemerintah (Government) dan Oposisi (Opposition).
Tantangan terbesar bagi para peserta adalah mosi debat yang bersifat impromptu (mendadak), di mana setiap tim hanya diberikan waktu selama 15 menit untuk menyusun argumen (case building) sebelum menyampaikan pidato mereka. Untuk menjaga aspek keadilan dan transparansi, kami menggunakan sistem Tabby Cat dalam mengelola tabulasi skor. Setelah melewati 4 ronde penyisihan (preliminary), tim-tim dengan akumulasi poin tertinggi berhak melaju ke babak eliminasi.
Apresiasi untuk Divisi Pratama dan Dedikasi Panitia
Salah satu hal yang menjadi keunggulan UNITE 2026 adalah inklusivitasnya bagi para pemula. Selain kategori Utama (Open), kami juga menyediakan penghargaan khusus melalui Kategori Divisi Pratama (Novice). Kategori ini merupakan bentuk apresiasi kami bagi pendebat individu maupun tim yang baru memulai perjalanannya di tingkat nasional dan belum pernah meraih gelar juara sebelumnya.
Meskipun jarak memisahkan kami melalui layar kaca, antusiasme dan energi yang ditunjukkan oleh para peserta sangat luar biasa. Setiap kali terjadi kendala teknis atau gangguan jaringan pada peserta, tim panitia beserta Liaison Of icer (LO) yang bertugas di Student Center langsung bergerak cepat memberikan solusi. Dedikasi ini berhasil menjaga atmosfer kompetisi tetap kondusif hingga babak Grand Final.
Saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh panitia yang telah mendonasikan waktu dan energinya secara penuh di Student Center selama dua hari berturut-turut. Harapan saya, seluruh ide dan dialektika yang telah tercipta dalam kompetisi ini dapat terus menginspirasi mahasiswa di Indonesia untuk tetap berpikir kritis demi masa depan yang lebih baik.
Sampai jumpa di UNITE berikutnya.
– Angely Sofia Komara –